Senin, 31 Oktober 2011
PENTINGNYA PENDIDIKAN PENGEMBANGAN KARAKTER
Senin, Oktober 31, 2011
Other Category
1. PEMBENTUKAN
KARAKTER
Pembentukan
karakter yang baik bagi generasi penerus harus dimulai ketika seseorang masih
kecil. Karena pada usia emas inilah nilai-nilai yang baik akan lebih mudah
dicerna oleh anak-anak. “Pentingnya pengembangan karakter bangsa sebagai dasar
untuk menciptakan generasi yang unggul dan memiliki daya saing,” kata salah
seorang pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF), Sofyan A Djalil saat
peluncuran buku Semua Berakar pada Karakter karya Ratna Megawangi di Jakarta,
Sabtu (19/5). Ratna memaparkan, pengasuhan ramah otak (Brain Base Parenting)
sangat penting dalam membentuk manusia secara utuh (holistik) dengan mengembangkan
aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual, dan intelektual anak secara
optimal. “Semua dimensi kita kembangkan dan kita masukkan ke dalam modul-modul
pendidikan. Ramah otak yang dimaksud adalah bagaimana orangtua mendekati
anaknya dengan metode yang diarahkan agar otak dapat berkembang dengan baik,
dengan pengembangan karakter yang baik,” papar Ratna Megawangi. Pada kesempatan
itu diberikan penghargaan kepada para mitra IHF yang telah membangun lebih dari
322 institusi pendidikan prasekolah di seluru Indonesia. Sekolah-sekolah itu di
bawah nama Semai Benih Bangsa di daerah tertinggal. IHF juga membantu beberapa
perusahaan menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang
pendidikan karakter. “Sekolah ini bersifat mandiri, tidak ada peran
pemerintah,” katanya. (Hajier, 2010)
2.
PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu
yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan
psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan
tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan
atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik
pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang
bersifat purna yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (IT Yapi Al Azhar Rawamangun, 2011).
Pemerintah telah menunjukkan kemauan politiknya dalam
membangunan sumber daya manusia sejak dini. Seperti disampaikan Ibu Megawati
(wakil presiden pada saat itu) saat membuka Konferensi Pusat I Masa Bakti VII
Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia. Beliau menegaskan pentingnya
pendidikan anak usia dini dalam konsep pembinaan dan pengembangan anak
dihubungkan pembentukan karakter manusia seutuhnya. Lebih jauh lagi beliau
menyatakan sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan bagi anak di usia
dini merupakan basis penentu pembentukan karakter manusia Indonesia di dalam
kehidupan berbangsa.
Pernyataan ini menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini
sangat penting bagi kelangsungan bangsa, dan perlu menjadi perhatian serius
dari pemerintah. Pendidikan anak usia dini merupakan strategi pembangunan
sumber daya manusia harus dipandang sebagai titik sentral mengingat pembentukan
karakter bangsa dan kehandalan SDM ditentukan bagaimana penanaman sejak anak
usia dini. Pentingnya pendidikan pada masa ini sehingga sering disebut dengan
masa usia emas (the golden age).
2.1 Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan
sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang
ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan
informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan
pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan
perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya
pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional
(sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan
dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Saat ini bidang ilmu pendidikan, psikologi, kedokteran,
psikiatri, berkembang dengan sangat pesat. Keadaan itu telah membuka wawasan
baru terhadap pemahaman mengenai anak dan mengubah cara perawatan dan
pendidikan anak. Setiap anak mempunyai banyak bentuk kecerdasan (Multiple
Intelligences) yang menurut Howard Gardner terdapat delapan domain kecerdasan
atau intelegensi yang dimiliki semua orang, termasuk anak. Kedelapan domain itu
yaitu inteligensi music, kinestetik tubuh, logika matematik, linguistik
(verbal), spasial, naturalis, interpersonal dan intrapersonal.
Multiple Intelligences ini perlu digali dan ditumbuh
kembangkan dengan cara memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan
secara optimal potensi-potensi yang dimiliki atas upayanya sendiri (Tientje,
2000).
2.2 Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Membangun Masa
Depan Bangsa
Kondisi SDM Indonesia berdasarkan hasil survey yang
dilakukan oleh PERC (Political and Economic Risk Consultancy) pada bulan Maret
2002 menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke-12,
terbawah di kawasan ASEAN yaitu setingkat di bawah Vietnam. Rendahnya kualtias
hasil pendidikan ini berdampak terhadap rendahnya kualtias sumber daya manusia
Indonesia.
Dalam kondisi seperti ini tentunya sulit bagi bangsa
Indonesia untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Pembangunan sumber
daya manusia yang dilaksanakan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat,
Jerman, Jepang dan sebagainya, dimulai dengan pengembangan anak usia dini yang
mencakup perawatan, pengasuhan dan pendidikan sebagai program utuh dan
dilaksanakan secara terpadu. Pemahaman pentingnya pengembangan anak usia dini
sebagai langkah dasar bagi pengembangan sumber daya manusia juga telah
dilakukan oleh bangsa-bangsa ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura,
termasuk negara industry Korea Selatan. Bahkan pelayanan pendidikan anak usia
dini di Singapura tergolong paling maju apabila dibandingkan dengan
negara-negara ASEAN lainnya.
Di Indonesia pelaksanaan PAUD masih terkesan ekslusif dan
baru menjangkau sebagian kecil masyarakat. Meskipun berbagai program perawatan
dan pendidikan bagi anak usia dini usia (0-6 tahun) telah dilaksanakan di
Indonesia sejak lama, namun hingga tahun 2000 menunjukkan anak usia 0-6 tahun
yang memperoleh layanan perawatan dan pendidikan masih rendah. Data tahun 2001
menunjukkan bahwa dari sekitar 26,2 jut anak usia 0-6 tahun yang telah
memperoleh layanan pendidikan dini melalui berbagai program baru sekitar 4,5
juta anak (17%). Kontribusi tertinggi melalui Bina Keluarga Balita (9,5%),
Taman Kanak-kanak (6,1%), Raudhatul Atfal (1,5%). Sedangkan melalui penitipan
anak dan kelompok bermain kontribusinya masing-masing sangat kecil yaitu
sekitar 1% dan 0,24%.
Masih rendahnya layanan pendidikan dan perawatan bagi anak
usia dini saat ini antara lain disebabkan masih terbatasnya jumla lembaga yang
memberikan layanan pendidikan dini jika dibanding dengan jumlah anak usia 0-6
tahun yang seharusnya memperoleh layanan tersebut. Berbagai program yang ada
baik langsung (melalui Bina Keluarga Balita dan Posyandu) yang telah ditempuh
selama ini ternyata belum memberikan layanan secara utuh, belum bersinergi dan
belum terintegrasi pelayanannya antara aspek pendidikan, kesehatan dan gizi.
Padahal ketiga aspek tersebut sangat menentukan tingkat intelektualitas, kecerdasan
dan tumbuh kembang anak.
Pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi
perhatian dunia internasional. Dalam pertemuan Forum Pendidikan Dunia tahun
2000 di Dakar Senegal menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi
pendidikan untuk semua dan salah satu butirnya adalah memperluas dan
memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi
anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung, Indonesia sebagai salah satu
anggota forum tersebut terikat untuk melaksanakan komitmen ini.
Perhatian dunia internasional terhadap urgensi pendidikan
anak usia dini diperkuat oleh berbagai penelitian terbaru tentang otak. Pada
saat bayi dilahirkan ia sudah dibekali Tuhan dengan struktur otak yang lengkap,
namun baru mencapai kematangannya setelah di luar kandungan. Bayi yang baru
lahir memiliki lebih dari 100 milyar neuron dan sekitar satu trilyun sel glia
yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan
membentuk bertrilyun-trilyun sambungan antar neuron yang jumlahnya melebihi
kebutuhan. Synap ini akan bekerja sampai usia 5-6 tahun. Banyaknya jumlah
sambungan tersebut mempengaruhi pembentukan kemampuan otak sepanjang hidupnya.
Pertumbuhan jumlah jaringan otak dipengaruhi oleh pengalaman yang didapat anak
pada awal-awal tahun kehidupannya, terutama pengalaman yang menyenangkan. Pada
fase perkembangan ini akan memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan
kemampuan berbahasa, matematika, keterampilan berpikir, dan pembentukan
stabilitas emosional.
Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak
usia dini, yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas,
(2) mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya
biaya sosial karena
tingginya produktivitas kerja dan daya tahan,
(3) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat,
(4) menolong para orang tua dan anak-anak.
Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk
memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi
untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini sepatutnya
juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada
proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan. Artinya, pendidikan
anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya
interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari
hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia
dini.
2.3 Perkembangan Anak Usia Dini
Sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa memberikan
pendidikan anak usia dini cukup dilakukan oleh orang dewasa yang tidak
memerlukan pengetahuan tentang PAUD. Selain itu juga mereka menganggap PAUD
tidak memerlukan profesionalisme. Pandangn tersebut adalah keliru.
Jika PAUD ingin dilakukan di rumah oleh ibu-ibu sendiri,
maka ibu-ibu itu perlu belajar dan menambah pengetahuan tentang proses
pembelajaran anak, misalnya dengan membaca buku, mengikuti ceramah atau seminar
tentang PAUD. Kenyataannya semakin banyak ibu-ibu bekerja di luar rumah, oleh
karena itu haruslah orang yang menggantikan peran ibu tersebut memahami proses
tumbuh kembang anak. Pembelajaran pada anak usia dini adalah proses
pembelajaran yang dilakukan melalui bermain. Ada lima karakteristik bermain
yang esensial dalam hubungan dengan PAUD (IT
Yapi Al Azhar Rawamangun, 2011). yaitu:
meningkatkan motivasi, pilihan bebas (sendiri tanpa paksaan), non linier,
menyenangkan dan pelaku terlibat secara aktif.
Bila salah satu kriteria bermain tidak terpenuhi misalnya
guru mendominasi kelas dengan membuatkan contoh dan diberikan kepada anak maka
proses belajar mengajar bukan lagi melalui bermain. Proses belajar mengajar
seperti itu membuat guru tidak sensitif terhadap tingkat kesulitan yang dialami
masing-masing anak. Ketidaksensitifan orangtua terhadap kesulitan anak bisa
juga terjadi, alasan utama yang dikemukakan biasanya karena kurangnya waktu
karena orangtua bekerja di luar rumah.
Memahami perkembangan anak dapat dilakukan melalui
interaksi dan interdependensi antara orangtua dan guru yang terus dilakukan
agar penggalian potensi kecerdasan anak dapat optimal. Interaksi dilakukan
dengan cara guru dan orangtua memahami perkembangan anak dan kemampuan dasar
minimal yang perlu dimiliki anak, yaitu musikal, kinestetik tubuh, logika
matematika, linguistik, spasial, interpersonal dan intrapersonal, karena pada
umumnya semua orang punya tujuh intelegensi itu, tentu bervariasi tingkat
skalanya
2.4 Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Anak adalah perwujudan cinta kasih orang dewasa yang siap
atau tidak untuk menjadi orang tua. Memiliki anak, siap atau tidak, mengubah
banyak hal dalam kehidupan, dan pada akhirnya mau atau tidak kita dituntut
untuk siap menjadi orang tua yang harus dapat mempersiapkan anak-anak kita agar
dapat menjalankan kehidupan masa depan mereka dengan baik.
Mengenal, mengetahui, memahami dunia anak memang bukan
sesuatu yang mudah. Dunia yang penuh warna-warni, dunia yang segalanya indah,
mudah, ceria, penuh cinta, penuh keajaiban dan penuh kejutan. Dunia yang
seharusnya dimiliki oleh setiap anak anak namun dalam kepemilikanya banyak bergantung
pada peranan orang tua.
Para ahli sependapat bahwa peranan orang tua begitu besar
dalam membantu anak-anak agar siap memasuki gerbang kehidupan mereka. Ini
berarti bahwa jika berbicara tentang gerbang kehidupan mereka, maka akan
membicarakan prospek kehidupan mereka 20-25 tahun mendatang. Pada tahun itulah
mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Masuk ke dalam kemandirian penuh,
masuk ke dalam dunia mereka yang independen yang sudah seharusnya terlepas
penuh dari orang tua dimana keputusan-keputusan hidup mereka sudah harus dapat
dilakukan sendiri. Disinilah peranan orang tua sudah sangat berkurang dan
sebagai orang tua, pada saat itu kita hanya dapat melihat buah hasil didikan
kita sekarang, tanpa dapat melakukan perubahan apapun.
Mengapa orang tua perlu meningkatkan intelektualitas anak
demi mempersiapkan mereka masuk sekolah? Jawabannya, sekolah saat ini meminta
persyaratan yang cukup tinggi dari kualitas seorang siswa. Masih didapat siswa
yang masuk SD sudah diperkenalkan dengan berbagai macam pelajaran dan ilmu
sejak dini. Anak-anak sudah harus memiliki kreativitas yang tinggi sejak kecil.
Oleh sebab itu, anak-anak yang memiliki intelektualitas yang tinggi akan lebih
mudah menerima dengan baik semua yang diajarkan. Mereka akan memiliki
kepercayaan diri yang tinggi, lebih mudah beradaptasi, lebih mudah menerima
hal-hal yang baru, atau intelektualitas anak bisa dikembangkan jauh sebelum
mereka masuk ke sekolah. Kondisi seperti itulah yang menempatkan orang tua
sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam program pendidikan
informal yang terjadi di lingkungan keluarga.
2.5 Permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini
Memasuki abad 21, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi
tiga tantangan besar. Pertama, sebagai akibat dari multi krisis yang menimpa
Indonesia sejak tahun 1997, dunia pendidikan dituntut untuk dapat
mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua,
untuk mengantisipasi era globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk
mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu bersaing
dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi
daerah, perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian system pendidikan nasional,
sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis,
memperhatikan keragaman potensi, kebutuhan daerah, peserta didik, dan mendorong
peningkatan partisipasi masyarakat.
Permasalahannya adalah ketidaksiapan bangsa Indonesia
menghadapi ketiga tantangan di atas, disebabkan rendahnya mutu sumber daya
manusianya. Untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan upaya serius melalui
pendidikan sejak dini yang mampu meletakkan dasar-dasar pemberdayaan manusia
agar memiliki kesadaran akan potensi diri dan dapat mengembangkannya bagi
kebutuhan diri, masyarakat dan bangsa sehingga dapat membentuk masyarakat
madani. Pendidikan anak usia dini merupakan hal paling mendasar yang dilakukan
sedini mungkin dan dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu. Menyeluruh,
artinya layanan yang diberikan kepada anak mencakup layanan pendidikan,
kesehatan dan gizi. Terpadu mengandung arti layanan tidak saja diberikan pada
anak usia dini, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat sebagai satu
kesatuan layanan.
3.
PENTINGNYA PENDIDIKAN KELUARGA DALAM
MASYARAKAT
Jakarta, HMINEWS.Com – Keluarga sebagai entitas terkecil dalam
masyarakat merupakan bagian yang sangat sentral dalam membangun karakter anak.
Keberhasilan anak tidak ditentukan oleh pendidikan formal semata, tetapi juga
pendidikan dalam keluarga. Selain itu, komunikasi yang baik antara anak dan
orang tua menjadi kunci dalam membangun keluarga utama.
Hal inilah yang menjadi inti pembicaraan dalam seminar dan
peluncuran buku Keluarga Utama Visi Praktis Back to Family, di Universitas
al-Azhar Jakarta, Minggu (25/07). Hadir sebagai pembicara adalah Saat Suharto
(Praktisi Ekonomi dan Pendiri BTM TAMZIS) dan Syahrul Efendi Dasopang sebagai
penulis buku.
Menurut Syahrul, karakter
tidak ditentukan oleh tempat pendidikan yang hebat. Akan tetapi keluarga
mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan karakter seseorang. Akan tetapi Syahrul menambahkan, saat ini
sepertinya, tidak terjadi kerjasama antara keluarga dengan institusi pendidikan
formal. Sementara itu, Saat Suharto berpendapat, hal yang sangat penting adalah
pola komunikasi antara anak dengan orang tua. Banyak orang tua yang gagal dalam
membangun komunikasi dengan anak-anaknya. Pola komunikasi yang dibangun juga
haruslah berkualitas. Komunikasi yang berkualitas juga harus dibarengi dengan
intensitas pertemuan yang cukup dengan anak. Menurutnya, keluarga utama
lahir dari pribadi-pribadi utama, untuk itu keluarga utama perlu di tata baik
dari sisi hanif, akhlak, maupun qalbunya. (Adi, 2010)
DAFTAR
PUSTAKA
Tientje, Nurlaila N.Q. Mei
dan Iskandar, Yul. 2004. Pendidikan Anak Dini Usia
Untuk
Mengembangkan Multipel Inteligensi. Jakarta: Dharma Graha Group.
definisi ARUS AIR LAUT
Senin, Oktober 31, 2011
Ilmu kelautan
Analisis Pengaruh Jarak Terhadap Beda Tinggi Pasang Surut Air
Laut
Karlina Apriani 2008. SKRIPSI S-1 TEKNIK SIPIL
Pasang surut adalah perubahan
ketinggian muka air laut karena gerak gravitasi bulan dan matahari serta benda
langit lain pada perputaran bumi. Perubahan elevasi muka air laut ini merupakan
fenomena alam yang teratur yang tidak dapat dihindari keberadaannya. Peramalan
gelombang pasang surut dilakukan untuk keperluan dermaga pelabuhan, perencanaan
bangunan – bangunan pantai, pelayaran, terutama kapal – kapal besar yang
membutuhkan kedalaman air yang besar
Pasang surut berbeda-beda pada tiap lokasi, seberapa besar
perbedaannya akan dianalisis dalam skripsi ini. Analisis dilakukan dengan
menghitung besar komponen - komponen pasang surut, dimana komponen yang di
pakai yaitu komponen yang domina
Download Selengkapnya - setelah klik link, lemudian pilih SKIP AD (pojok kanan atas)
Download Selengkapnya - setelah klik link, lemudian pilih SKIP AD (pojok kanan atas)
Pengertian dan fungsi GPS
Senin, Oktober 31, 2011
Ilmu kelautan
Peta adalah
gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala tertentu melalui suatu
sistem proyeksi. peta mulai ada dan digunakan manusia, sejak manusia melakukan
penjelajahan dan penelitian. Walaupun masih dalam bentuk yang sangat sederhana
yaitu dalam bentuk sketsa mengenai lokasi suatu tempat. Pada awal abad ke 2
(87M -150M), Claudius Ptolomaeus mengemukakan mengenai pentingnya peta.
Kumpulan dari peta-peta karya Claudius Ptolomaeus dibukukan dan diberi nama
“Atlas tolomaeus”. Ilmu yang membahas mengenai peta adalah kartografi.
Sedangkan orang ahli membuat peta disebut artografer.
Berdasarkan
isinya
peta dapat
digolongkan menjadi dua jenis, yaitu: peta umum dan peta khusus (tematik).
1. Peta Umum
Peta umum adalah
peta yang menggambarkan permukaan bumi secara umum. Peta
umum ini memuat
semua penampakan yang terdapat di suatu daerah, baik kenampakan
fisis (alam)
maupun kenampakan sosial budaya. Kenampakan fisis misalnya sungai,
gunung, laut,
danau dan lainnya. Kenampakan sosial budaya misalnya jalan raya, jalan
kereta api,
pemukiman kota dan lainnya.
Peta umum ada 2
jenis yaitu: peta topografi dan peta chorografi.
a. Peta
Topografi
Peta topografi
yaitu peta yang menggambarkan bentuk relief (tinggi rendahnya)
permukaan bumi.
Dalam peta topografi digunakan garis kontur (countur line) yaitu
garis yang
menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama.
b. Peta
Chorografi
Peta chorografi
adalah peta yang menggambarkan seluruh atau sebagian
permukaan bumi
dengan skala yang lebih kecil antara 1 : 250.000 sampai 1 :
1.000.000 atau
lebih.
2. Peta Khusus
atau Tematik
Peta khusus
adalah peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan (fenomena
geosfer)
tertentu, baik kondisi fisik maupun sosial budaya.
Contoh peta
khusus/tertentu: peta curah hujan, peta kepadatan penduduk, peta
penyebaran hasil
pertanian, peta penyebaran hasil tambang, chart (peta jalur
penerbangan atau
pelayaran).
Fungsi Peta
Peta sangat
diperlukan oleh manusia. Dengan peta Anda dapat mengetahui atau menentukan
lokasi yang Anda
cari, walaupun Anda belum pernah mengunjungi tempat tersebut.
Secara umum
fungsi peta dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Menunjukkan
posisi atau lokasi suatu tempat di permukaan bumi.
2.
Memperlihatkan ukuran (luas, jarak) dan arah suatu tempat di permukaan bumi.
3. Menggambarkan
bentuk-bentuk di permukaan bumi, seperti benua, negara, gunung,
sungai dan
bentuk-bentuk lainnya.
4. Membantu
peneliti sebelum melakukan survei untuk mengetahui kondisi daerah yang
akan diteliti.
5. Menyajikan
data tentang potensi suatu wilayah.
6. Alat analisis
untuk mendapatkan suatu kesimpulan.
7. Alat untuk
menjelaskan rencana-rencana yang diajukan.
8. Alat untuk
mempelajari hubungan timbal-balik antara fenomena-fenomena (gejala-gejala)
geografi di
permukaan bumi.
Dra. Romenah http://elcom.umy.ac.id/elschool/muallimin_muhammadiyah/file.php/1/materi/Geografi/PENGETAHUAN%20PETA.pdf
Rachmat Kusnadi,
Muhammad Oding, Rosidi, Sutomo, Geografi SMU kelas I,
Bandung:
Grafindo Media Pratama, 1997.
Sistem Pemosisi
Global atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Global
Positioning System (GPS) adalah sistem untuk menentukan posisi di permukaan
bumi dengan bantuan sinkronisasi sinyal satelit. Sistem ini menggunakan 24
satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima
oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi,
kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS antara lain GLONASS
Rusia, Galileo Uni Eropa, IRNSS India.
Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (kesalahan umum adalah bahwa NAVSTAR adalah sebuah singkatan, ini adalah salah, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS). Kumpulan satelit ini diurus oleh 50th Space Wing Angkatan Udara Amerika Serikat. Biaya perawatan sistem ini sekitar US$750 juta per tahun, termasuk penggantian satelit lama, serta riset dan pengembangan.
GPS Tracker atau sering disebut dengan GPS Tracking adalah teknologi AVL (Automated Vehicle Locater) yang memungkinkan pengguna untuk melacak posisi kendaraan, armada ataupun mobil dalam keadaan Real-Time. GPS Tracking memanfaatkan kombinasi teknologi GSM dan GPS untuk menentukan koordinat sebuah obyek, lalu menerjemahkannya dalam bentuk peta digital.
Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (kesalahan umum adalah bahwa NAVSTAR adalah sebuah singkatan, ini adalah salah, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS). Kumpulan satelit ini diurus oleh 50th Space Wing Angkatan Udara Amerika Serikat. Biaya perawatan sistem ini sekitar US$750 juta per tahun, termasuk penggantian satelit lama, serta riset dan pengembangan.
GPS Tracker atau sering disebut dengan GPS Tracking adalah teknologi AVL (Automated Vehicle Locater) yang memungkinkan pengguna untuk melacak posisi kendaraan, armada ataupun mobil dalam keadaan Real-Time. GPS Tracking memanfaatkan kombinasi teknologi GSM dan GPS untuk menentukan koordinat sebuah obyek, lalu menerjemahkannya dalam bentuk peta digital.
1. Apa itu GPS?
GPS (Global Positioning System) merupakan sistem navigasi satelit yang dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US DoD = United States Department of Defense). GPS memungkinkan kita mengetahui posisi geografis kita (lintang, bujur, dan ketinggian di atas permukaan laut). Jadi dimanapun kita berada di muka bumi ini, kita dapat mengetahui posisi kita dengan tepat.
GPS (Global Positioning System) merupakan sistem navigasi satelit yang dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US DoD = United States Department of Defense). GPS memungkinkan kita mengetahui posisi geografis kita (lintang, bujur, dan ketinggian di atas permukaan laut). Jadi dimanapun kita berada di muka bumi ini, kita dapat mengetahui posisi kita dengan tepat.
GPS terdiri dari 3 segmen: Segmen
angkasa, kontrol/pengendali, dan pengguna., dimana :
Segmen angkasa: terdiri dari 24 satelit yang
beroperasi dalam 6 orbit pada ketinggian 20.200 km dan inklinasi 55 derajat
dengan periode 12 jam (satelit akan kembali ke titik yang sama dalam 12 jam).
Satelit tersebut memutari orbitnya sehingga minimal ada 6 satelit yang dapat
dipantau pada titik manapun di bumi ini. Satelit tersebut mengirimkan posisi
dan waktu kepada pengguna seluruh dunia.
Segmen Kontrol/Pengendali: terdapat pusat pengendali utama
yang terdapat di Colorodo Springs, dan 5 stasiun pemantau lainnya dan 3 antena
yang tersebar di bumi ini. Stasiun pemantau memantau semua satelit GOS dan
mengumpulkan informasinya. Stasiun pemantau kemudian mengirimkan informasi
tersebut kepada pusat pengendali utama yang kemudian melakukan perhitungan dan
pengecekan orbit satelit. Informasi tersebut kemudian dikoreksi dan dilakukan
pemuktahiran dan dikirim ke satelit GPS.
Segmen Pengguna: Pada sisi pengguna dibutuhkan
penerima GPS (selanjutnya kita sebut perangkat GPS) yang biasanya
terdiri dari penerima, prosesor, dan antena, sehingga memungkinkan kita
dimanapun kita berada di muka bumi ini (tanah, laut, dan udara) dapat menerima
sinyal dari satelit GPS dan kemudian menghitung posisi, kecepatan dan waktu.
2. Bagaimana cara kerja GPS ?
Setiap satelit mentransmisikan dua sinyal yaitu L1 (1575.42 MHz) dan L2 (1227.60 MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal pseudo-random yaitu kode P (Protected) dan kode C/A (coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya membawa kode P. Setiap satelit mentransmisikan kode yang unik sehingga penerima (perangkat GPS) dapat mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada saat fitur �Anti-Spoofing� diaktifkan, maka kode P akan dienkripsi dan selanjutnya dikenal sebagai kode P(Y) atau kode Y.
Setiap satelit mentransmisikan dua sinyal yaitu L1 (1575.42 MHz) dan L2 (1227.60 MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal pseudo-random yaitu kode P (Protected) dan kode C/A (coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya membawa kode P. Setiap satelit mentransmisikan kode yang unik sehingga penerima (perangkat GPS) dapat mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada saat fitur �Anti-Spoofing� diaktifkan, maka kode P akan dienkripsi dan selanjutnya dikenal sebagai kode P(Y) atau kode Y.
Perangkat GPS yang dikhususkan buat
sipil hanya menerima kode C/A pada sinyal L1 (meskipun pada perangkat GPS yang
canggih dapat memanfaatkan sinyal L2 untuk memperoleh pengukuran yang lebih
teliti.
Perangkat GPS menerima sinyal yang
ditransmisikan oleh satelit GPS. Dalam menentukan posisi, kita membutuhkan
paling sedikit 3 satelit untuk penentuan posisi 2 dimensi (lintang dan bujur)
dan 4 satelit untuk penentuan posisi 3 dimensi (lintang, bujur, dan
ketinggian). Semakin banyak satelit yang diperoleh maka akurasi posisi kita
akan semakin tinggi. Untuk mendapatkan sinyal tersebut, perangkat GPS harus
berada di ruang terbuka. Apabila perangkat GPS kita berada dalam ruangan atau
kanopi yang lebat dan daerah kita dikelilingi oleh gedung tinggi maka sinyal
yang diperoleh akan semakin berkurang sehingga akan sukar untuk menentukan
posisi dengan tepat atau bahkan tidak dapat menentukan posisi.
3. Bagaimana GPS digunakan ?
Perangkat GPS menerima sinyal dari satelit dan kemudian melakukan perhitungan sehingga pada tampilan umumnya kita dapat mengetahui posisi (dalam lintang dan bujur), kecepatan, dan waktu. Disamping itu juga informasi tambahan seperti jarak, dan waktu tempuh. Posisi yang ditampilkan merupakan sistem referensi geodetik WGS-84 dan waktu merupakan referensi USNO (U.S. Naval Observatory Time).
Perangkat GPS menerima sinyal dari satelit dan kemudian melakukan perhitungan sehingga pada tampilan umumnya kita dapat mengetahui posisi (dalam lintang dan bujur), kecepatan, dan waktu. Disamping itu juga informasi tambahan seperti jarak, dan waktu tempuh. Posisi yang ditampilkan merupakan sistem referensi geodetik WGS-84 dan waktu merupakan referensi USNO (U.S. Naval Observatory Time).
4. Siapa yang dapat menggunakan GPS?
GPS dipergunakan pada berbagai bidang antara lain, sistem navigasi pesawat, laut dan darat, pemetaan dan geodesi, survei, sistem penentuan lokasi, pertanian, eksplorasi sumber daya alam, dan masih banyak lagi.
GPS dipergunakan pada berbagai bidang antara lain, sistem navigasi pesawat, laut dan darat, pemetaan dan geodesi, survei, sistem penentuan lokasi, pertanian, eksplorasi sumber daya alam, dan masih banyak lagi.
2003.http://www.navigasi.net/gofaq.php
suhu dan salinitas air laut
Senin, Oktober 31, 2011
Ilmu kelautan
Salinitas merupakan parameter penunjuk jumlah bahan terlarut dalam
air. Dalam pengukuran salinitas turut pula diperhitungkan komponen GH dan
KH disamping bahan-bahan terlarut lainnya seperti natrium. Informasi kadar
salintas sangat penting artinya dalam akuairum laut. Sedangkan dalam
akuarium air tawar mengetahui pH,KH dan GH sudah memadai. Salinitas pada umumnya dinyatakan sebagai
berat jenis (specific gravity), yaitu rasio antara berat larutan terhadap
berat air murni dalam volume yang sama. Rasio ini dihitung
berdasarkan konidisi suhu 15°C. Pengukuran salinitas dalam kehidupan
sehari-hari biasanya menggunakan hydrometer, yang telah dikalibrasikan untuk
digunakan pada suhu kamar. Salah satu komponen salinitas yang tidak tercakup
baik oleh KH dan GH adalah kadar natrium. Beberapa ikan air tawar dapat
menerima (toleran) kehadiran sejumlah kecil natrium dalam bentuk garam.
Bahkan sampai tahap tertentu digunakan sebagak terapi pengobatan akibat parasit
seperti ich. Sedangkan beberapa spesies yang lain sama sekali tidak toleran
terhadap garam. Jenis-jenis ikan tidak bersisik dan corydoras diketahui
sangat sensitif terhadap garam dibandingkan dengan kebanyakan ikan air tawar
lainnya.
Wahyu purwakusuma.2002.
http://www.o-fish.com/Air/salinitas.php
Salinitas adalah tingkat keasinan
atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada
kandungan garam dalam tanah. Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas
terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan
garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas,
kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum)
beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya
serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat
yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar
listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%),
natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan
sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak,
strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan
batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal
(hydrothermal vents) di laut dalam. Secara ideal, salinitas merupakan jumlah
dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara
praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu
penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting
saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai
jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen
digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi
untuk menentukan kandungan klorida. Salinitas ditetapkan pada tahun 1902
sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air
laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan yodium
dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya
hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian
pengukuran dasar laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia
dan dinyatakan sebagai:
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut. Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan rumus:
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya. Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas.
"Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Catatan:
Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas. Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut. Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan rumus:
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya. Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas.
"Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Catatan:
Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas. Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).
Air sebagai lingkungan hidup
organisme air relatif tidak begitu banyak mengalami fluktuasi suhu dibandingkan
dengan udara, hal ini disebabkan panas jenis air lebih tinggi daripada udara.
Artinya untuk naik 1° C, setiap satuan volume air memerlukan sejumlah panas
yang lebih banyak dari pada udara.
Pada perairan dangkal akan
menunjukkan fluktuasi suhu air yang lebih besar dari pada perairan yang dalam.
Sedangkan organisme memerlukan suhu yang stabil atau fluktuasi suhu yang
rendah. Agar suhu air suatu perairan berfluktuasi rendah maka perlu adanya
penyebaran suhu. Hal tersebut tercapai secara sifat alam antara lain sebagai
berikut.
• Penyerapan (absorbsi) panas
matahari pada bagian permukaan air.
• Angin, sebagai penggerak
permindahan massa air.
• Aliran vertikal dari air itu
sendiri, terjadi bila disuatu perairan (danau) terdapat lapisan suhu air yaitu
lapisan air yang bersuhu rendah akan turun mendesak lapisan air yang bersuhu
tinggi naik ke-permukaan perairan. Selain itu, suhu air sangat berpengaruh
terhadap jumlah oksigen terlarut di dalam air. Jika suhu tinggi, air akan lebih
lekas jenuh dengan oksigen dibanding dengan suhunya rendah.
Suhu air pada suatu perairan dapat
dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut
(altitude), waktu dalam satu hari, penutupan awan, aliran dan kedalaman air.
Peningkatan suhu air mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia,
evaporasi dan volatisasi serta penurunan kelarutan gas dalam air seperti O2,
CO2, N2, CH4, dan sebagainya.
SUMBER :
Gusrina, 2008. Budidaya
Ikan Jilid I. PT Macanan jaya cemerlang. Jakarta.
Suhu adalah derajat panas atau
dingin suatu zat.
Sifat Termometrik adalah sebagi dasar pengukur suhu suatu zat, yaitu kepekaan suatu zat terhedap perubahan suhu. Misalnya, volume benda bertambah jika suhunya naik, warna benda berubah jika suhunya berubah jika suhunya berubah, hambatan jenis berubah jika suhunya berubah, dan lain-lain.
Alat pengukur suhu adalah Termometer.
Secara Umum Termometer terbagi tiga, yaitu Termometer Celcius, Termometer Reamur, Termometer Kelvin dan Termometer Fahrenheit.
Untuk menentukan system skala suhu digunakan titik acuan bawah dan titik acuan atas. Titik acuan bawah yaitu titik lebur es pada tekanan 1 atm, sedangkan titik acuan atas adalah suhu titik didih air pada tekanan 1 atm.
Sifat Termometrik adalah sebagi dasar pengukur suhu suatu zat, yaitu kepekaan suatu zat terhedap perubahan suhu. Misalnya, volume benda bertambah jika suhunya naik, warna benda berubah jika suhunya berubah jika suhunya berubah, hambatan jenis berubah jika suhunya berubah, dan lain-lain.
Alat pengukur suhu adalah Termometer.
Secara Umum Termometer terbagi tiga, yaitu Termometer Celcius, Termometer Reamur, Termometer Kelvin dan Termometer Fahrenheit.
Untuk menentukan system skala suhu digunakan titik acuan bawah dan titik acuan atas. Titik acuan bawah yaitu titik lebur es pada tekanan 1 atm, sedangkan titik acuan atas adalah suhu titik didih air pada tekanan 1 atm.
2009.
http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/1935231-suhu-dan-kalor/.oyab
Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu
benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan
indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah
termometer untuk mengukur suhu dengan valid. Pada abad 17 terdapat 30 jenis
skala yang membuat para ilmuan kebingungan. Hal ini memberikan inspirasi pada Anders
Celcius (1701 – 1744) sehingga pada tahun 1742 dia memperkenalkan skala
yang digunakan sebagai pedoman pengukuran suhu. Skala ini diberinama sesuai
dengan namanya yaitu Skala Celcius. Apabila benda didinginkan terus maka
suhunya akan semakin dingin dan partikelnya akan berhenti bergerak, kondisi ini
disebut kondisi nol mutlak. Skala Celcius tidak bisa menjawab masalah ini maka Lord
Kelvin (1842 – 1907) menawarkan skala baru yang diberi nama Kelvin. Skala
kelvin dimulai dari 273 K ketika air membeku dan 373 K ketika air mendidih.
Sehingga nol mutlak sama dengan 0 K atau -273°C. Selain skala tersebut ada juga
skala Reamur dan Fahrenheit. Untuk skala Reamur air membeku pada suhu 0°R dan
mendidih pada suhu 80°R sedangkan pada skala Fahrenheit air membuka pada suhu
32°F dan mendidih pada suhu 212°F.
http://sidikpurnomo.net/pembelajarafisika/suhu.2008
DEFINISI GELOMBANG
Senin, Oktober 31, 2011
Ilmu kelautan
Gelombang/ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam tergantung kepada gaya pembangkitnya. Pembangkit gelombang laut dapat disebabkan oleh: angin (gelombang angin), gaya tarik menarik bumi-bulan-matahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik atau tektonik) di dasar laut (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal.
Gelombang yang sehari-hari terjadi dan diperhitungkan dalam bidang teknik pantai adalah gelombang angin dan pasang-surut (pasut). Gelombang dapat membentuk dan merusak pantai dan berpengaruh pada bangunan-bangunan pantai. Energi gelombang akan membangkitkan arus dan mempengaruhi pergerakan sedimen dalam arah tegak lurus pantai (cross-shore) dan sejajar pantai (longshore). Pada perencanaan teknis bidang teknik pantai, gelombang merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena akan menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai.
Langganan:
Postingan (Atom)











